
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di Timur Tengah semakin kompleks dengan adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan ini membuat posisi Israel, terutama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terjepit karena Israel telah lama menjadi sekutu utama AS di kawasan tersebut.
Perdagangan diplomatik zwischen AS dan Iran semakin meningkat, yang menandai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS. Sejak lebih dari 75 tahun, AS telah menjadi pelindung utama Israel di Timur Tengah, dan perubahan ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang masa depan hubungan antara kedua negara.

Baca Juga
Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei: Sebuah Upacara Kenegaraan Besar di Iran yang Dikawal Ketat Oleh Korps Mohammad Rasulollah
Jutaan orang diperkirakan hadir dalam pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang meninggal, dengan Korps Mohammad Rasulollah berperan penting dalam mengawal keamanan internal dan pengerahan pasukan di Teheran. Upacara ini digelar di Komplek Makam Ali Reza, Mashad, timur Teheran, dan diawali dengan proses penghormatan sejak 4 Juli. Otoritas Iran memperkirakan bahwa acara ini akan dihadiri oleh 12 hingga 20 juta pelayat, menjadikannya salah satu upacara kenegaraan terbesar dalam sejarah Iran.
Israel beberapa kali melakukan manuver yang seakan-akan sengaja merusak rencana negosiasi damai AS dan Iran, terutama dengan terus melakukan serangan ke Lebanon. Presiden AS Donald Trump murka dengan manuver Israel ini dan menyebut Netanyahu 'gila' dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih. Trump bahkan meyakini Netanyahu sudah akan dipenjara jika bukan karena intervensi Presiden AS.
Dalam sebuah wawancara dengan Axios, Trump mengatakan Netanyahu 'tahu siapa bosnya', sebuah pengakuan bahwa hubungan antara kedua pemimpin tersebut tegang. Bukan hanya itu, Trump juga menegur Netanyahu karena menolak untuk menghentikan serangan terhadap Lebanon dalam sebuah percakapan telepon bulan lalu.
Saat ini, Netanyahu sedang menghadapi situasi yang berbahaya bagi kelangsungan politiknya, berpotensi menghadapi penjara karena tuduhan korupsi yang sedang berlangsung dan pemilihan umum yang dapat menggulingkannya dari jabatannya akhir tahun ini. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut Trump merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang saat ini bersimpati kepada Israel.
Bukan hanya pemerintahan Israel yang dipimpin Netanyahu yang merasa mulai ditinggalkan Trump, tetapi juga sejumlah warga Israel yang merasa dikhianati Trump menyusul kesepakatan damai dengan Iran. 'Kami sudah dikhianati oleh Presiden Trump', ujar Avi Perez, warga Israel yang bermukim di Rehovot.
Kemarahan publik Israel terhadap Trump semakin menjadi-jadi setelah Trump mendesak Israel untuk melakukan gencatan dengan Hizbullah. Pasalnya, Iran mengancam akan membatalkan kesepakatan jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon. 'Warga Israel percaya bahwa perang di Lebanon adalah perang yang adil. Semua orang yang tinggal di Israel memahami bahwa Iran dan Hizbullah adalah satu dan sama', ucap Udi Tenne, seorang penasihat strategis politik dan manajer kampanye internasional di Israel.
Trump sendiri meminta pihak Israel untuk menggunakan 'kepala' terkait kesepakatan antara AS dan Iran. Trump mulai gerah dengan lobi-lobi yang dilakukan Israel untuk menyakinkan AS tetap menyerang Iran. 'Terkadang kamu hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehatmu', ucap Trump kepada NBC.
Dalam konteks ini, dapat dilihat bahwa hubungan antara AS dan Israel mengalami ketegangan yang signifikan. Apakah AS benar-benar siap meninggalkan Israel? Pertanyaan ini masih menggantung dan menimbulkan banyak spekulasi di kalangan masyarakat internasional. Satu hal yang pasti, perubahan dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Israel akan memiliki dampak yang signifikan pada keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Masa depan hubungan antara AS dan Israel masih belum jelas, tetapi yang pasti adalah bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran telah membuka babak baru dalam dinamika politik Timur Tengah. Apakah Israel akan berhasil mempertahankan posisinya sebagai sekutu utama AS, atau apakah AS akan memilih untuk mengubah kebijakan luar negerinya terhadap Israel, hanya waktu yang akan menjawab.
Sementara itu, warga Israel terus mengawasi situasi dengan ketat, menunggu perkembangan selanjutnya dalam hubungan antara AS dan Iran. Mereka berharap bahwa keputusan yang diambil oleh pemerintah AS akan mempertimbangkan kepentingan dan keselamatan Israel, tetapi mereka juga menyadari bahwa dinamika politik internasional dapat berubah dengan cepat dan tidak terduga.
Dalam beberapa minggu terakhir, situasi di Timur Tengah semakin rumit, dan keputusan yang diambil oleh AS dan Iran akan memiliki dampak yang signifikan pada keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut. Apakah AS akan tetap menjadi sekutu utama Israel, atau apakah mereka akan memilih untuk mengubah kebijakan luar negerinya, masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab.
Sumber Artikel : cnnindonesia.com



